Berapa jam sehari waktu kita habis untuk melihat layar ponsel? Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, arus informasi global terus masuk tanpa henti. Kita begitu gampang tahu tren fesyen luar negeri atau kuliner yang lagi viral. Namun, di tengah gempuran teknologi yang riuh ini, ada ancaman nyata yang makin terasa: digital amnesia terhadap kearifan lokal.
Digital amnesia budaya terjadi saat masyarakat terutama anak muda mulai lupa dan makin asing dengan tradisi sendiri akibat terlalu bergantung pada gawai. Padahal, kearifan lokal dulu diwariskan secara alami. Anak-anak mendengar cerita dari kakek-nenek sebelum tidur, petani paham membaca tanda alam, dan warga menjaga kerukunan lewat gotong royong. Sekarang, posisi penutur tradisi itu tergeser oleh algoritma media sosial. Anak muda sekarang justru lebih paham quote tokoh luar negeri dibanding filosofi tradisi daerahnya sendiri.
Ada tiga pemicu utama kenapa kearifan lokal makin luntur: Pertama, adanya anggapan bahwa tradisi lokal itu kuno, rumit, dan nggak praktis untuk zaman yang serba cepat. Kedua, minimnya dokumentasi tertulis. Banyak nilai budaya kita cuma mengandalkan tutur lisan (oral history). Saat generasi tua meninggal tanpa ada arsip digital yang rapi, ilmu dan cerita itu ikut hilang. Ketiga, budaya cuma dinikmati di permukaan. Tradisi sering kali sekadar dijadikan pelengkap acara atau pemandangan aesthetic di media sosial, tanpa ada upaya memahami makna di baliknya.
Lantas, apakah teknologi harus disalahkan? Tentu tidak. Teknologi itu netral, tinggal bagaimana cara kita memakainya. Dibanding membiarkan teknologi memicu digital amnesia, kita bisa membalikkan keadaan dengan menjadikan media digital sebagai alat pelestari budaya. Salah satu langkah nyatanya adalah memanfaatkan platform website atau blog seperti WordPress. Lewat tulisan dan dokumentasi digital yang rapi, narasi kearifan lokal bisa diakses siapa saja dan tahan lama di mesin pencari.
Nilai-nilai tradisi juga perlu dibaca ulang dengan kacamata modern. Contohnya, sistem tata kelola air tradisional atau aturan adat menjaga hutan yang ternyata sangat sejalan dengan isu lingkungan saat ini. Ketika nilai lokal dihubungkan dengan persoalan kekinian, orang akan sadar bahwa kearifan lokal bukanlah ajaran kaku yang ketinggalan zaman, melainkan solusi bijak yang tetap relevan melintasi waktu.
Modernisasi adalah hal yang pasti terjadi dan tak perlu dijauhi. Tapi menjadi modern bukan berarti kita harus asing di tanah sendiri. Mendokumentasikan kembali kearifan lokal ke dalam platform digital seperti portal web dan blog adalah cara terbaik melawan digital amnesia. Sebab masyarakat yang maju bukan cuma mereka yang mahir pakai teknologi canggih, tapi mereka yang bisa melangkah maju tanpa melepaskan akar budayanya.